Jumat, 29 April 2016

Rintihku saat kak Bagas

“Saya pelatih baru disini. Panggil saja kak Bagas. Mari kita latihan.” Kata pelatih baru itu sambil tersenyum. Senyumannya itu sungguh membuat beberapa anak di kelas itu sempat terpana, tak terkecuali denganku. Tak sadar, aku telah lamaa melihatnya, memandangnya sambil senyum-senyum sendiri tapi lama kelamaan aku seperti telah bertemu sebelumnya, entah itu dimana aku pun tidak ingat. Wajahnya yang oval serta matanya yang sedikit sipit membuatku semakin penasaran padanya. Siapakah dia? Wajahnya yang tak asing itu...Apakah aku pernah bertemu sebelumnya? Sempat memikirkan hal itu sejenak dapat membuatku gila & nggak konsen buat latihan sampai-sampai aku terjatuh & kakiku terkilir. Dengan sigap, kak Bagas langsung menolongku & mencoba untuk menyembuhkan kakiku yang terkilir.
“Auhh, sakit kak.” Rintihku saat kak Bagas mulai mengurut kakiku, meskipun itu rasanya sakit..mungkin rasa sakit itu berkurang karena yang mengobatinya adalah cowok yang bikin aku penasaran padanya. “Kaki kamu terkilir, sebaiknya kamu berhenti latihan dulu.” Katanya sambil memeriksa kakiku. “Tapi kak..aku masih pengen latihan.” Sontak aku memohon padanya, bak bagaikan anak kecil yang merengek minta permen pada ibunya tapi tetap saja, kak Bagas tetap melarangku.
“Jangan memaksakan dirimu untuk ikut latihan, kaki kamu terkilir. Bisa fatal nantinya kalau kamu paksa buat latihan. Kamu istirahat saja disini.” Kata-katanya itu seraya membiusku, suaranya yang lembut & rasa care-nya padaku sempat membuatku ge-er. Pikiranku mulai melayang-layang memikirkan hal itu, apakah mungkin ia? Ah tidak mungkin. Sontak aku menepis rasa angan-anganku itu padanya. Tidak mungkin juga cowok yang baru aja aku kenal langsung suka sama aku.

Keesokan harinya di sekolah...
Keadaan kakiku masih sama sepeti kemarin, masih sakit. Jadi untuk jalan pun aku masih sedikit pincang. Siang ini setelah istirahat ke 2, B.Fela menyuruhku untuk mengantarkan hasil ulangan anak kelas 9C. Aku pun langsung membawanya dengan berjalan sedikit pincang. Sesampainya disana, kuketuk pintu kelas 9C yang tertutup itu. Karena tidak ada balasan dari dalam, akhirnya aku memberanikan diri masuk ke kelas itu. Tetapi tidak ada satu pun siswa di dalam kelas itu. Kenapa kelasnya kosong? Pikirku seketika itu, lantas aku pun segera meninggalkan kelas itu. Saat aku hendak membuka pintu kelas, tiba-tiba pintunya terbuka sendiri & bergerak mengarahku. Dan seketika itu pun aku, “Auuhhh, kepalaku.” Iya aku pun terjatuh seketika & kertas-kertas ulangannya jatuh berserakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar