“Saya pelatih baru disini. Panggil saja kak Bagas. Mari kita latihan.”
Kata pelatih baru itu sambil tersenyum. Senyumannya itu sungguh membuat
beberapa anak di kelas itu sempat terpana, tak terkecuali denganku. Tak
sadar, aku telah lamaa melihatnya, memandangnya sambil senyum-senyum
sendiri tapi lama kelamaan aku seperti telah bertemu sebelumnya, entah
itu dimana aku pun tidak ingat. Wajahnya yang oval serta matanya yang
sedikit sipit membuatku semakin penasaran padanya. Siapakah dia?
Wajahnya yang tak asing itu...Apakah aku pernah bertemu sebelumnya?
Sempat memikirkan hal itu sejenak dapat membuatku gila & nggak
konsen buat latihan sampai-sampai aku terjatuh & kakiku terkilir.
Dengan sigap, kak Bagas langsung menolongku & mencoba untuk
menyembuhkan kakiku yang terkilir.
“Auhh, sakit kak.” Rintihku saat
kak Bagas mulai mengurut kakiku, meskipun itu rasanya sakit..mungkin
rasa sakit itu berkurang karena yang mengobatinya adalah cowok yang
bikin aku penasaran padanya. “Kaki kamu terkilir, sebaiknya kamu
berhenti latihan dulu.” Katanya sambil memeriksa kakiku. “Tapi kak..aku
masih pengen latihan.” Sontak aku memohon padanya, bak bagaikan anak
kecil yang merengek minta permen pada ibunya tapi tetap saja, kak Bagas
tetap melarangku.
“Jangan memaksakan dirimu untuk ikut latihan, kaki
kamu terkilir. Bisa fatal nantinya kalau kamu paksa buat latihan. Kamu
istirahat saja disini.” Kata-katanya itu seraya membiusku, suaranya yang
lembut & rasa care-nya padaku sempat membuatku ge-er. Pikiranku
mulai melayang-layang memikirkan hal itu, apakah mungkin ia? Ah tidak
mungkin. Sontak aku menepis rasa angan-anganku itu padanya. Tidak
mungkin juga cowok yang baru aja aku kenal langsung suka sama aku.
Keesokan harinya di sekolah...
Keadaan
kakiku masih sama sepeti kemarin, masih sakit. Jadi untuk jalan pun aku
masih sedikit pincang. Siang ini setelah istirahat ke 2, B.Fela
menyuruhku untuk mengantarkan hasil ulangan anak kelas 9C. Aku pun
langsung membawanya dengan berjalan sedikit pincang. Sesampainya disana,
kuketuk pintu kelas 9C yang tertutup itu. Karena tidak ada balasan dari
dalam, akhirnya aku memberanikan diri masuk ke kelas itu. Tetapi tidak
ada satu pun siswa di dalam kelas itu. Kenapa kelasnya kosong? Pikirku
seketika itu, lantas aku pun segera meninggalkan kelas itu. Saat aku
hendak membuka pintu kelas, tiba-tiba pintunya terbuka sendiri &
bergerak mengarahku. Dan seketika itu pun aku, “Auuhhh, kepalaku.” Iya
aku pun terjatuh seketika & kertas-kertas ulangannya jatuh
berserakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar