Jumat, 29 April 2016

jangan sedih

Sejak hari itu, sejak aku mulai mengenalnya sedikit demi sedikit. Kejadian itu yang membuat aku sama kak Bagas makin akrab. Tiap hari aku sering mengiriminya pesan sekedar untuk berbagi cerita, begitu juga sebaliknya. Rasanya senang sekali. Ia mewarnai hari-hariku dengan candaannya, sikapnya yang ramah pada semua orang terutama padaku. Sungguh, aku sangat tenang saat berada disampingnya. Apakah mungkin aku mulai menyukainya? Hari demi hari berlalu, waktu yang membuat kita semakin dekat. Namun, kedekatanku selama ini padanya bukan tanpa suatu alasan. Tidak ada hubungan yang terikat diantara kita. Aku bukan pacarnya & ia bukan pacarku. Rasanya hubungan ini merasa gantung. Entah siapa yang menggantungnya. Aku pun tak pernah berpikir buruk padanya. Mungkin selama ini ia tahu kalau aku menyimpan rasa untuknya tapi...kenapa ia tak tanyakan hal itu padaku? Apa mungkin ia tak menganggapku sebagai orang spesial di hatinya? Rasa penasaranku itu masih terus terbayang di hatiku.

Rasanya ada awan mendung yang menyelimuti hati ini. Dan berharap ada sedikit sinar matahari yang bisa mengusir awan mendung itu dari suasana hatiku. Suasana kelabu yang sedang aku alami saat ini. Aku menunggumu, kak. Menunggu kepastian yang akan kau berikan padaku. Dan...mungkin aku nggak bisa ketemu kamu lagi karena kamu udah mau lulus.
-----

Pagi ini kak Bagas mengajakku ke sebuah labirin taman. Iya sekalian sambil jogging pagi ini. Memang taman ini dibangun dengan konsep labirin mini & taman bunganya jadi menambah keindahan taman tersebut. Tak terasa waktu berjalan sekitar ½ jam. Aku pun mengajaknya beristirahat di tempat duduk di taman itu.
“Aku seneng banget deh kak hari ini, bisa jogging bareng sama kakak. Iyaa mungkin ini yang terakhir kalinya aku bisa sama kakak.” kataku sambil menatap kak Bagas. Kak Bagas sontak bertanya-tanya apa maksud dari omonganku itu. “Apa maksud kamu, Fania?” mendengar itu...aku pun langsung tersenyum, “Kamu bentar lagi lulus kan kak? Mungkin ini yang terakhir kalinya aku bisa sama kakak. Selebihnya aku nggak tau.”
“Fania, jangan sedih gitu dong. Selama ini...aku sebenernya sayang sama kamu. Jangan khawatir, kita masih bisa berhubungan kok.” mendengar perkataan darinya itu sontak membuat jantungku berdebar kencang, tak terkendali. Apa? Apa aku tak salah dengar? Apa yang ia katakan barusan? Sayang sama aku? Apa benar kalau ia selama ini menyayangiku? Saat itu juga pikiranku sempat melayang kemana-mana memikirkan hal itu. “Aku menyayangimu, Fania. Kamu udah aku nggap sebagai adikku sendiri. Jangan sedih ya.” jawabnya sambil tersenyum padaku. Sebagai adik? Adik katanya? Huhh, aku pikir ia akan menembakku hari ini. Aku pikir selama ini ia menganggapku sebagai orang yang spesial di hatinya. Tapi...ternyata ia cuma menganggapku sebagai adiknya. Perasaanku yang selama ini tumbuh selama berjalannya waktu, rasanya hari ini aku tidak bisa terima oleh takdir. Perasaanku yang tulus ini tidaklah dibalas olehnya. Aku pun segera menepis pikiran negatifku tentang perkataannya. Menjadi seorang adiknya...tidaklah buruk bukan?
“Tapi aku takut kak. Aku takut kehilangan kakak. Aku..aku juga menganggap kamu sebagai kakakku sendiri. Aku takut kalau kedepannya, kakak akan berubah sama aku. Kalau kakak udah SMA, pasti sibuk. Terus bakalan lupain aku.” jawabku. “Iya nggak lupa dek. Aku nggak mungkin lupa sama kamu, Fania. Pokoknya kakak janji, kakak akan berusaha membagi waktu luangku.” jawabnya sambil menenangkanku. Tapi meskipun begitu, masih ada rasa khawatir kak di dalam hatiku. “Fania? Kok diam sih? Udah dong jangan sedih lagi ya. Aku nggak suka kalau ngeliat kamu bersedih kayak gitu. Ayo senyum dong.” hiburnya padaku. Aku pun berusaha senyum dihadapannya, memberikan senyuman termanis untuknya & mungkin itu adalah senyuman terakhirku dihadapannya...tidaklah buruk bukan? Tapi sebenarnya, hati ini tidaklah bisa tersenyum manis, kak. Masih ada sedikit rasa khawatir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar