Sejak hari itu, sejak aku mulai mengenalnya sedikit demi sedikit.
Kejadian itu yang membuat aku sama kak Bagas makin akrab. Tiap hari aku
sering mengiriminya pesan sekedar untuk berbagi cerita, begitu juga
sebaliknya. Rasanya senang sekali. Ia mewarnai hari-hariku dengan
candaannya, sikapnya yang ramah pada semua orang terutama padaku.
Sungguh, aku sangat tenang saat berada disampingnya. Apakah mungkin aku
mulai menyukainya? Hari demi hari berlalu, waktu yang membuat kita
semakin dekat. Namun, kedekatanku selama ini padanya bukan tanpa suatu
alasan. Tidak ada hubungan yang terikat diantara kita. Aku bukan
pacarnya & ia bukan pacarku. Rasanya hubungan ini merasa gantung.
Entah siapa yang menggantungnya. Aku pun tak pernah berpikir buruk
padanya. Mungkin selama ini ia tahu kalau aku menyimpan rasa untuknya
tapi...kenapa ia tak tanyakan hal itu padaku? Apa mungkin ia tak
menganggapku sebagai orang spesial di hatinya? Rasa penasaranku itu
masih terus terbayang di hatiku.
Rasanya ada awan mendung yang
menyelimuti hati ini. Dan berharap ada sedikit sinar matahari yang bisa
mengusir awan mendung itu dari suasana hatiku. Suasana kelabu yang
sedang aku alami saat ini. Aku menunggumu, kak. Menunggu kepastian yang
akan kau berikan padaku. Dan...mungkin aku nggak bisa ketemu kamu lagi
karena kamu udah mau lulus.
-----
Pagi ini kak Bagas
mengajakku ke sebuah labirin taman. Iya sekalian sambil jogging pagi
ini. Memang taman ini dibangun dengan konsep labirin mini & taman
bunganya jadi menambah keindahan taman tersebut. Tak terasa waktu
berjalan sekitar ½ jam. Aku pun mengajaknya beristirahat di tempat duduk
di taman itu.
“Aku seneng banget deh kak hari ini, bisa jogging
bareng sama kakak. Iyaa mungkin ini yang terakhir kalinya aku bisa sama
kakak.” kataku sambil menatap kak Bagas. Kak Bagas sontak bertanya-tanya
apa maksud dari omonganku itu. “Apa maksud kamu, Fania?” mendengar
itu...aku pun langsung tersenyum, “Kamu bentar lagi lulus kan kak?
Mungkin ini yang terakhir kalinya aku bisa sama kakak. Selebihnya aku
nggak tau.”
“Fania, jangan sedih gitu dong. Selama ini...aku
sebenernya sayang sama kamu. Jangan khawatir, kita masih bisa
berhubungan kok.” mendengar perkataan darinya itu sontak membuat
jantungku berdebar kencang, tak terkendali. Apa? Apa aku tak salah
dengar? Apa yang ia katakan barusan? Sayang sama aku? Apa benar kalau ia
selama ini menyayangiku? Saat itu juga pikiranku sempat melayang
kemana-mana memikirkan hal itu. “Aku menyayangimu, Fania. Kamu udah aku
nggap sebagai adikku sendiri. Jangan sedih ya.” jawabnya sambil
tersenyum padaku. Sebagai adik? Adik katanya? Huhh, aku pikir ia akan
menembakku hari ini. Aku pikir selama ini ia menganggapku sebagai orang
yang spesial di hatinya. Tapi...ternyata ia cuma menganggapku sebagai
adiknya. Perasaanku yang selama ini tumbuh selama berjalannya waktu,
rasanya hari ini aku tidak bisa terima oleh takdir. Perasaanku yang
tulus ini tidaklah dibalas olehnya. Aku pun segera menepis pikiran
negatifku tentang perkataannya. Menjadi seorang adiknya...tidaklah buruk
bukan?
“Tapi aku takut kak. Aku takut kehilangan kakak. Aku..aku
juga menganggap kamu sebagai kakakku sendiri. Aku takut kalau
kedepannya, kakak akan berubah sama aku. Kalau kakak udah SMA, pasti
sibuk. Terus bakalan lupain aku.” jawabku. “Iya nggak lupa dek. Aku
nggak mungkin lupa sama kamu, Fania. Pokoknya kakak janji, kakak akan
berusaha membagi waktu luangku.” jawabnya sambil menenangkanku. Tapi
meskipun begitu, masih ada rasa khawatir kak di dalam hatiku. “Fania?
Kok diam sih? Udah dong jangan sedih lagi ya. Aku nggak suka kalau
ngeliat kamu bersedih kayak gitu. Ayo senyum dong.” hiburnya padaku. Aku
pun berusaha senyum dihadapannya, memberikan senyuman termanis untuknya
& mungkin itu adalah senyuman terakhirku dihadapannya...tidaklah
buruk bukan? Tapi sebenarnya, hati ini tidaklah bisa tersenyum manis,
kak. Masih ada sedikit rasa khawatir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar