Petang telah tiba, Banu hendak melesat pergi menjauhi tempat peperangan.
Kini telah berada di ujung tanduk, saatnya melayang-layangkan renungan
pikiran menuju tempat peperangan yang lebih besar, dengan memiliki
berbagai musuh yang bersenjata lengkap. Cukup rumit bayangan itu, ujar
Banu dalam hati. Kedudukan yang tak pantas, pakaian kusut, sepatu
menongol ibu dari jarinya, dan rumah kayu yang jadi tempat meneduhnya
bersama neneknya yang telah tua. Semua itu tak membuat Banu minder akan
keberadaannya. Bergaul dan bersahabat itu keahlian Banu. Walaupun, Banu
menyenangi mata pelajaran Biologi, tak luput dalam kehidupan sesaatnya
pandai dalam sosiologinya.
Senja buta, tibalah Banu di rumah. Tok.tok.tok Assalamualaikum. Dibukalah pintu itu.
“Banu baru pulang?” dengan wajah cemas nenek bertanya, karena ini pertama kalinya Banu pulang malam hari.
“Iya
nek. Tadi di tempat pertempuran, diselesaikan secara tuntas, karena
lusa harus siap bertempur dengan musuh-musuh yang datang dari pemerintah
dengan sederetan alpabet beserta pungtuasinya yang terkenal menakutkan
(tanda tanya ataupun tanda seru).” Jawab Banu kepada nenek.
“Nek, nek, nek?” tanya berulang Banu kepada neneknya.
“Iya apa Banu?” jawab nenek dengan tersenyum.
“Begini
nek, tempat pertempuran Banu hampir usai, Banu ingin melanjukkan
peperangan yang lebih hebat lagi, dan lebih dasyat lagi nek, dengan
musuh-musuh dari penjuru dunia dengan peralatan-peralatan hebat untuk
berperang. Biar Banu memakai bambu runcing untuk berperang, Banu tak kan
menyerah dan tak akan kalah.” Penjelasan Banu dengan kegigihan
menjawabnya.
“Oh itu, jika Banu ingin mencapai itu semua, dengan
penuh kegigihan Banu, mari Banu ikut sama nenek. Banu kita sama-sama
salat malam, berpuasa, dan selalu mengoyang-goyangkan pengecap Banu
dengan alunan-alunan doa atas nama-nama Tuhan.” Nenek memberikan saran
dengan lemah lembut, dengan ketuaannya yang lelah berujar terlalu
panjang untaian kata, dengan sedikit senyuman nenek yang penuh
kepastian.
“Baik nek, Banu mau ikut nenek.” Dengan tersenyum Banu berujar kepada nenek.
Pukul
21.00 memisahkan perbincangan antara Banu dan neneknya menuju ruangan
masing-masing. Terpintas, terpikir dalam benak Banu hingga lelapnya
mimpi-mimpi dalam matinya. Tak pernah terpikir oleh neneknya, kemiskinan
bukanlah membuatnya kufur akan nikmat Tuhannya. Bukan ujaran-ujaran
kasar yang terlontar, bukan ujaran penyesalan atau keluhan “ah, ih, uh,
eh, dan oh” yang terlepas dari ikatan alat pengecapnya kepada Banu
melainkan mengajaknya bermain lebih dekat kepada Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar