Rabu, 27 April 2016

Banu di rumah

Petang telah tiba, Banu hendak melesat pergi menjauhi tempat peperangan. Kini telah berada di ujung tanduk, saatnya melayang-layangkan renungan pikiran menuju tempat peperangan yang lebih besar, dengan memiliki berbagai musuh yang bersenjata lengkap. Cukup rumit bayangan itu, ujar Banu dalam hati. Kedudukan yang tak pantas, pakaian kusut, sepatu menongol ibu dari jarinya, dan rumah kayu yang jadi tempat meneduhnya bersama neneknya yang telah tua. Semua itu tak membuat Banu minder akan keberadaannya. Bergaul dan bersahabat itu keahlian Banu. Walaupun, Banu menyenangi mata pelajaran Biologi, tak luput dalam kehidupan sesaatnya pandai dalam sosiologinya.

Senja buta, tibalah Banu di rumah. Tok.tok.tok Assalamualaikum. Dibukalah pintu itu.
“Banu baru pulang?” dengan wajah cemas nenek bertanya, karena ini pertama kalinya Banu pulang malam hari.
“Iya nek. Tadi di tempat pertempuran, diselesaikan secara tuntas, karena lusa harus siap bertempur dengan musuh-musuh yang datang dari pemerintah dengan sederetan alpabet beserta pungtuasinya yang terkenal menakutkan (tanda tanya ataupun tanda seru).” Jawab Banu kepada nenek.
“Nek, nek, nek?” tanya berulang Banu kepada neneknya.
“Iya apa Banu?” jawab nenek dengan tersenyum.
“Begini nek, tempat pertempuran Banu hampir usai, Banu ingin melanjukkan peperangan yang lebih hebat lagi, dan lebih dasyat lagi nek, dengan musuh-musuh dari penjuru dunia dengan peralatan-peralatan hebat untuk berperang. Biar Banu memakai bambu runcing untuk berperang, Banu tak kan menyerah dan tak akan kalah.” Penjelasan Banu dengan kegigihan menjawabnya.
“Oh itu, jika Banu ingin mencapai itu semua, dengan penuh kegigihan Banu, mari Banu ikut sama nenek. Banu kita sama-sama salat malam, berpuasa, dan selalu mengoyang-goyangkan pengecap Banu dengan alunan-alunan doa atas nama-nama Tuhan.” Nenek memberikan saran dengan lemah lembut, dengan ketuaannya yang lelah berujar terlalu panjang untaian kata, dengan sedikit senyuman nenek yang penuh kepastian.
“Baik nek, Banu mau ikut nenek.” Dengan tersenyum Banu berujar kepada nenek.
Pukul 21.00 memisahkan perbincangan antara Banu dan neneknya menuju ruangan masing-masing. Terpintas, terpikir dalam benak Banu hingga lelapnya mimpi-mimpi dalam matinya. Tak pernah terpikir oleh neneknya, kemiskinan bukanlah membuatnya kufur akan nikmat Tuhannya. Bukan ujaran-ujaran kasar yang terlontar, bukan ujaran penyesalan atau keluhan “ah, ih, uh, eh, dan oh” yang terlepas dari ikatan alat pengecapnya kepada Banu melainkan mengajaknya bermain lebih dekat kepada Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar